Tiongkok Desak Filipina Tak Main Api Soal Isu Taiwan

Pada awal tahun 2025, hubungan antara Tiongkok dan Filipina kembali memanas setelah Beijing mengeluarkan peringatan keras terhadap Manila mengenai sikapnya terkait isu Taiwan. Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan di kawasan Asia Timur semakin meningkat, terutama terkait dengan masalah Taiwan, yang secara historis menjadi isu sensitif bagi Tiongkok. Filipina, yang memiliki hubungan diplomatik yang cukup dekat dengan Amerika Serikat, turut terlibat dalam dinamika ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beijing mengingatkan Manila agar tidak terjebak dalam permainan politik yang dapat memperburuk situasi di kawasan tersebut.

Latar Belakang Masalah Taiwan

Taiwan merupakan pulau yang terletak di sebelah timur Tiongkok. Secara politik, Taiwan mengklaim dirinya sebagai negara yang merdeka dan memiliki pemerintahan sendiri. Namun, Tiongkok menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang sah dan tidak pernah meninggalkan aspirasi untuk menyatukan pulau tersebut dengan daratan utama. Sebagai salah satu kekuatan besar di dunia, Tiongkok secara konsisten menekankan kebijakan “Satu Tiongkok” dan berusaha mencegah negara mana pun mengakui kedaulatan Taiwan.

Isu ini menjadi semakin sensitif ketika negara-negara besar seperti Amerika Serikat (AS) memberikan dukungan kepada Taiwan dalam berbagai bentuk, baik secara politik maupun militer. Filipina, yang merupakan sekutu AS dalam beberapa dekade terakhir, juga berada di tengah ketegangan ini. Sebagai negara yang berada di kawasan yang dekat dengan Taiwan, Filipina merasa perlu berhati-hati dalam bersikap.

Filipina dan Tiongkok: Hubungan yang Rumit

Filipina dan Tiongkok memiliki hubungan yang sangat kompleks. Meskipun kedua negara memiliki kerjasama ekonomi yang erat, terutama dalam sektor perdagangan dan investasi, mereka juga sering terlibat dalam ketegangan politik, terutama terkait dengan sengketa Laut China Selatan. Tiongkok mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan, yang juga diklaim oleh Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei. Sengketa ini menciptakan ketegangan yang tak kunjung reda, meskipun kedua negara kadang berusaha untuk menjaga hubungan diplomatik yang baik.

Namun, situasi berubah ketika Filipina mulai lebih terbuka dalam mendukung kebijakan AS, yang lebih mendukung Taiwan dan menentang ekspansi Tiongkok di kawasan tersebut. Tiongkok menyadari bahwa sikap Filipina yang lebih condong ke AS dapat merusak stabilitas di kawasan Asia Timur, dan ini menjadi salah satu alasan utama Beijing mengeluarkan peringatan keras kepada Manila.

Tiongkok Desak Filipina Tak Main Api

Beijing menganggap bahwa Filipina harus berhati-hati dalam mengambil langkah terkait isu Taiwan. Dalam beberapa pernyataan resmi, pejabat Tiongkok menegaskan bahwa negara-negara di kawasan Asia Tenggara tidak boleh terlibat dalam “permainan api” yang dapat memperburuk ketegangan di Selat Taiwan. Peringatan ini tidak hanya ditujukan kepada Filipina, tetapi juga negara-negara lain yang mungkin terpengaruh oleh kebijakan luar negeri AS yang mendukung Taiwan.

Filipina Menghadapi Dilema

Filipina kini berada dalam posisi yang sulit. Di satu sisi, negara ini memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat, yang merupakan salah satu mitra utama dalam bidang keamanan dan pertahanan. Di sisi lain, Filipina juga harus mempertimbangkan hubungan ekonominya yang penting dengan Tiongkok. Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing telah berinvestasi besar-besaran di Filipina melalui berbagai proyek infrastruktur dan bantuan ekonomi. Namun, ketegangan yang timbul di Laut China Selatan dan isu Taiwan memaksa pemerintah Filipina untuk mencari keseimbangan yang hati-hati dalam menjaga hubungan dengan kedua negara besar tersebut.

Pemerintah Filipina tampaknya berusaha untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Tiongkok, sementara tetap berkomitmen untuk memperkuat kemitraannya dengan AS. Dalam konteks ini, Presiden Filipina mungkin merasa perlu untuk menjaga kebijakan luar negeri yang lebih independen, agar tidak terjebak dalam perselisihan besar yang melibatkan kekuatan besar seperti Tiongkok dan AS.

Kiriman serupa